belajar sandiwara

the second act

Semuanya senang. Semua tertawa terbahak-bahak. Senyuman gembira terpampang di wajah, seperti membuktikan semua benar-benar bahagia.

Having a good time. Living in a good mood.

Kayak di film.

Di momen ketika emosi bergejolak di dalam dada. Ya misalnya ketika saya marah sama orang, bisa juga ketika kesel, sebel, atau kecewa. Boleh juga sebutkan contoh emosi2 lainnya. Saya selama ini hanya punya dua pilihan, bertatapan muka trus marah membantai habis-habisan atau kabur lalu mencoba memendam emosi menenangkan diri.

Saya pegang sebuah prinsip:

“Perkataan yg kamu ucapkan saat kamu emosi adalah perkataan yg akan kamu sesali seumur hidup.”

Benar banget, super setuju. Saya melihat sendiri buktinya. Kalau butuh bukti universal silakan saja riset orang-orang yang katanya dewasa mengapa kok mereka bisa bercerai (sering karena mereka lagi bertengkar, trus emosi, terus ngomong hal yang mereka sesali seumur hidup: minta cerai)

Kadang memang tekanan hidup. Mungkin ada tantangan hidup (ada yg sebut ini sbg masalah, ya terserah) entah mungkin ada apa yg terjadi yg bisa mengubah emosi seseorang. Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan terjadi. Emosi bisa berubah.

Atau. Mungkin kuatir. Mungkin juga takut. Mungkin bisa juga akar pahit. Bisa juga sekedar benci, sekedar kesal, kenapa si itu orang blablabla. Sekedar sedikit kecewa. Mungkin pengalaman negatif dulu muncul kembali. Atau ketagihan sama sesuatu. Bisa juga perasaan bersalah. Bisa jadi memikirkan opini orang lain atau mungkin apa yg dipikirkan orang lain pada sesuatu yg sudah atau belum terjadi.

Mungkin yang lain, mungkin juga gabungan. Dicampur jadi semakin jenuh, penuh, semakin penuh, dan penuh, dan penuh, dan penuh, dan jenuh, dan penuh, sampai penuh dengan kejenuhan, sampai jenuh dengan kepenuhan, dan hingga akhirnya: meledak.

Ingin rasanya ketika meledak tidak perlu memberitahu siapapun. Biar hanya orang di depan cermin dan Tuhan aja yang tahu. Mungkin banyak bisa tahu, tapi emang hanya dua pihak itu yang bisa mengerti. Berjuang memaksakan ekspresi yang asli, yang semua orang ingin lihat. Mengucap kata yang bagus, yang semua orang ingin dengar.

Tidak ingin ada seorang pun terkena serpihan ledakan, efek samping dari gejolak emosi yang katanya manusiawi, tapi nyatanya sedikit manusia yang peduli. Agar terlihat lebih rohani, selalu bisa mengatur emosi.

Lebih baik kabur. Diam. Bukan karena saya pendiam. Tapi nanti banyak yang terluka mendengar perkataan saya. Kena efek. Kena damprat. Kena getahnya. Merasa bersalah kalau melihat ke belakang, bicara dengan nada tinggi ke orang-orang tidak bersalah. Ya walau kadang ada salahnya juga haha. So sorry btw.

Saya tau kok cara mengendalikan emosi secara psikologi, fisiologi, sampe rohani. FYI saya baru saja menyalurkan emosi saya disini. Lebih lega loh bisa buang sampah. Saya juga tau kalo emang sebaiknya berdoa, lebih spesifiknya berdoa dalam Roh (praying in the spirit).

Tapi ada tertulis

kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa

dan ini cara saya menenangkan diri. Oh God please bless wordpress, bless ones who read this, yes you! Thank You for Your unfailing love, unending love, unconditional perfect love.

Terakhir saya punya satu permintaan tulus terkait kontrol emosi dan komunikasi:

boleh tolong ajari saya akting?

[] SHS

Iklan

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s