Fiksi: Sebentar Lagi

More Mom's Mums
 

01:52

Cantik banget, aku disadarkan seketika saat itu melihat wajahnya dari dekat. Aku taruh kepalaku di pundaknya. Aku pegang tangannya erat. Tanganku dicengkeram keras. Aku menyibukkan diriku utk fokus dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Air mata menetes mengalir ke pipinya. Tetap cantik sekali, keriput kecil di kulit putihnya itu tidak berhasil memudarkan kecantikannya. Tanganku dilepas sebentar, diambilnya tissue Paseo bermotif bunga di meja, mengusap air mata dan membuang ingus di hidung. Lalu tanganku dicengkeram lagi. Kali ini agak lebih keras.Jadi teringat 3 tahun yang lalu. Aku didiagnosis kena sakit yg istilahnya serem dan efeknya ngeri. Kala aku merasa kepala sakit banget, aku cuma meletakkan kepala di pangkuannya, membiarkan kepala ini dielus manja, kadang ada air mata jatuh menetes, tanpa suara namun terasa.

“Doain mama yah, nak.”

Kali ini giliranku untuk gantian berbicara. Isi hatinya tercurah tanpa sensor. Isi pikirannya dituangkan lengkap dengan emosi yang berkaitan. Aku ternyata tertular emosi, gak bisa tahan beberapa tetesan air mata keluar. Kita sama-sama tahu informasinya lengkap sekali di internet. Aman, risiko rendah. Tapi tetap saja ketakutan itu bisa saja ada. Menyelinap di balik istilah risiko, berlipat ganda di balik cerita gosip-gosip yang bereda, bertambah kuat setelah mendengar penjelasan logis mengenai pembuluh arteri dan pendarahan yang mungkin terjadi.

Tuhan yang aku kenal dekat dan intim. Namanya Yesus Kristus. Sudah tebus kami dan bayar lunas dosa-dosa kami. Dia juga menanggung segala penyakit kami sekeluarga, oleh darah-Nya kami berhak beroleh kesembuhan total. Doa yang simpel dan polos dinaikkan. Tentu saja didengarkan. Aku beriman banget mama sudah sembuh. Aku akan lihat itu sebentar lagi. Ya, sebentar lagi.

“Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amen.”

Sempat merasa bersalah. Aku banyak memberontak, banyak bikin salah, banyak marah-marah. Ingin rasanya membuat bangga, sekedar menyenangkan hatinya. Oh GOD.

*

Cerita disadur dari pengalaman seseorang. Bahasa kerennya: inspired by true story
[]

Iklan

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s