Egosentris, betapa AKU begitu

Travis - Selfish Jean
“Kamu rendah hati banget deh.”

“Eh eh eh, ternyata yah si [nama Anda] orangnya rendah hati banget yah”

Semua orang mau dibilang rendah hati dan tidak sombong. Semua. Kalau ada yang enggak berarti beliau adalah pencilan atau diluar mayoritas atau juga bisa pake bahasa kerennya: outliers.Si outliers ini dijadiin buku loh sama sahabat urang namanya akang Malcolm Gladwell. Beliau bikin buku best seller gitu yg judulnya, Outliers, haha tadi udah dibilang ya. Yaampun buang-buang kata aja yak. Btw gua punya bukunya versi inggris terus belum dibaca sih terus kenapa yah.

Kebanyakan kita sulit untuk menerima bahwa dirinya Sombong, kebalikan dari rendah hati, seperti saya. Dibilang rendah hati, seneng banget jungkir balik, padahal ga tau deh kl itu yg ngomong boong apa jujur apa mabok.

Dibilang sombong? Kalo gua kadang mikir begini: “Ah dianya aja yang sirik, dianya aja yang ngiri, dianya tuh emang deh ga bisa ngeliat orang bersyukur, ga bisa ngeliat orang berhasil ngeliat orang lagi naik..”

Yaelah gaya banget, naik ke mana emang? Puncak?
#singing: menuju Puncak, gemilang cahaya zzzz

Saya anggap diri saya cukup rendah hati. Saya anggap. Saya asumsikan demikian. Melogikakan apa yang saya berikan ke orang dalam perkataan dan tindakan, saya pikir dan sepertinya benar, ya saya rendah hati. Hehe. Haha. Hihi. Hoho. Huhu.

Paragraf barusan aja udah ironi banget bilangnya rendah hati, tapi ngomongin diri sendiri terus. Ngomong “saya” nya aja udah tujuh kali, sempurna bot egonya, sombong tingkat kecamatan.

Di sini saya mengasosiasikan sombong dengan egois, egosentris, mau menang sendiri, gak mau mengalah. Sehingga rendah hati bisa dibilang berkeluarga dengan murah hati, senang memberi, mau melayani, hati hamba, dan kerabat jauh lainnya yang saya males ngetik.

Sombong mulai di pikiran. Yeaps. Ketika kita berkomunikasi sadar ataupun tidak kita menyampaikan pesan-pesan tersembunyi selain kata-kata semata. Bisa lewat intonasi suara dan body language.

Pengirim pesan menyampaikan bahwa “gua lebih keren dari elo” atau pesan lainnya yang intinya bilang dirinya mengungguli rekan bicaranya.

Sang penerima pesan, baik sadar atau tidak, menangkap pesan rahasia itu. Kalau sadar yah, kita bisa bilang
“gosh, sombong banget yah ini orang?”

Kalo gua sih menghakimi demikian dalam hati berdasarkan tatapan mata, intonasi, pemilihan kata-kata yg diucapkan, dan fokus pembicaraan. Kalo ngomongin diri sendiri terus yaudahlah yah? Hua ha ha ha.

Ya hanya orang lain yang bisa menilai kita. Diulang lagi. Hanya orang lain selain kita yang bisa menilai kita. Kalimat barusan-barusan itu menyebabkan gua bisa melanggar garis batas yg tipis antara
“mendengarkan masukan positif/kritik dari orang lain” dengan “jangan pernah berusaha menyenangkan semua orang”

Batasan yg kedua mengenai orang cuma bisa ngebacot doang apapun yang kita perbuat tidak gua sentuh dan please jangan masuk ke area itu. Lain kali aja. Apa mau sekarang? Jangan lah ya..

So, momen-momen itu terjadi beberapa kali dan berulang kali, sama saya, kali ini bukan cerita fiksi haha.

“Jangan sombong!””

“Ya, kamu orangnya egosentris.”

“JANGAN SOMBONG!!!!”

Dan beberapa versi lainnya dengan detail kata-kata yang yah lupa dan ga penting juga. Pas denger gitu, kaget dong terus di badan ini kayak menolak dan secara spontan mengirim impuls ke otak untuk MEMBELA DIRI, menyanggah pendapat, dan bertarung menyelamatkan kerendahan hati diri sendiri yang dicoreng oleh orang selain saya sendiri. Sempet juga Tuhan yg negur gua hehe perih brooo.

Tapi saya berjuang setengah mati, untungnya, haleluya, berhasil. Saya tidak jadi membela diri, lidah ini diam, kedua telinga ini mendengarkan. Siap dikoreksi, siap memperbaiki diri, siap meminta ampun sudah sombong sekali, memikirkan diri sendiri.

Ketika itu saya mengerti sebuah hikmat:
“Saya sombong ketika saya pikir saya rendah hati. Saya mulai menjadi rendah hati ketika saya tahu saya mulai menjadi sombong.”

Seperti ada tertulis:

A man’s pride shall bring him low: but honour shall uphold the humble in spirit. – Proverbs 29:23

Terus satu lagi yang paling nendang menurut gua, yang ini ngetrend juga sih:

For everyone who exalts himself will be humbled, and he who humbles himself will be exalted. ” – Luke 14:11

(Kalo ga ngerti jangan sedih, ini gua kasih)
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ” – Lukas 14:11

*

Dear readers, therefore I’d like to say I’m sorry for being so selfish, egocentric, arrogant, and so on.

Pembaca yang imut, maaf ya saya terlalu sombong.

[]

Iklan

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s