NIKAH YUK?

Proposal
Aku suka banget sama hal-hal yang tidak biasa. Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan perkara yang dikerjakan semua orang, perkara yang standar, perkara yang gitu-gitu aja. Hidup ini luar biasa banget kalo bisa ngelakuin hal yang aneh, hal yang mungkin gila, tapi layak dilakukan. Okay anggap saja ini intro dan setelah ini barulah cerita fiksi dimulai.

*

Pagi ini cerah sekali. Aku tarik nafas dalam-dalam menikmati udara pagi yang segar. Tubuh yang sudah disegarkan dengan air dingin sekarang dihangatkan matahari di depan kamarku. “Jemuran daging” pikir si kucing yang sedang asik telentang menonton aku yang berjemur tanpa pakaian, tanpa bermaksud memamerkan perut six-pack. Hari ini pasti seru banget! Ah otak ini ga bisa berhenti berpikir. Aku mau ketemu sama gebetan aku. Sulit banget bisa mengatur janji untuk bisa makan bareng. Kalo ngikutin di sinetron sih enaknya makan malem, tapi udah bersyukur banget yang penting bisa ketemu.

Kami akan makan di sebuah restoran di dataran tinggi sana, enak ngobrol di kala udara sejuk. Di sana aku suka banget sama interiornya, makanannya sih ya biasa aja, enak sih tapi ga gitu ngangenin, lebih ngangenin kamu hahaha. Interiornya itu dipenuhi sama kayu jati. Kayu jati yang besar banget dan sudah berumur puluhan tahun. Kayu banget deh. Aku tersenyum karena sudah menyiapkan topik obrolan. Ya biasanya suka kehabisan topik alias tegang alias nervous yang berakibat pikiran tidak fokus, dan itu agak memalukan kurang jantan, gak keren lah. Kesannya tuh kalah gitu, yang keren tuh kalo doi yang nervous guanya biasa aja.

Kalo minjem istilah Eintein,
“Insanity is doing same action yet expecting different result.”

ya intinya harus ngelakuin hal yang berbeda untuk mendapat hasil atau respon yang berbeda. VOILA! Aku mendapatkan hikmat, pembicaraan kecil yang harusnya tidak terbayangkan dan menarik untuk ditunggu responsnya. Aku tertawa cekikikan seperti orang gitu kala itu, berjemurnya aku sudahi, kulitku yang putih sudah mulai menghitam anehnya perutku yang six-pack mulai kembali membuncit. Ah sudalah namanya juga fiksi.

**

Dia cantik banget hari ini. Gua berseru dalam hati “OMG, SUPER CUTE!“. Dalam hati aja karena kalo itu terlontar nanti beliau bisa ge-er dan itu tidak baik karena belum waktunya. Meminjam istilah seorang rekan yang katanya tertulis di kitab suci: “Jangan membangkitkan cinta sebelum waktunya.” Maknanya adalah jangan melakukan tindakan cinta (dalam ekspresi apapun) kepada seseorang kalo belum ada komitmen apa-apa, sebab itu adalah tindakan yang sia-sia dan berbahaya. Bayangkan Anda sudah berhubungan dengan teman biasa seperti orang yang berpacaran, atau extreme case udah berhubungan seperti orang yang sudah menikah (Anda tau ngapain!) tapi ga ada komitmen, terus yaudah bisa putus kapan saja kan? Lalu meninggalkan luka yang dalam di hati. Ya kita harus belajar setia dari hal-hal yang kecil dan sepele.

Semuanya lancar. Kami saling bertukar pandang, bertukar pikiran, berbagi hidup, dan kadang berbagi makanan di atas piring. Sesekali kami tertawa terbahak-bahak, sesekali ada obrolan serius, yang satu berbicara dan yang satu diam mendengarkan. Lalu aku pikir inilah waktu yang tepat. Aku mengambil gelas berisi teh hijau hangat lalu menyeruputnya perlahan. Kutarik nafas dalam. Aku mencoba menghirup sebanyak mungkin rasa berani yang ada di atmosfer. Mencoba menenangkan diri, aku meletakkan kedua tanganku di atas meja jati itu, lalu berusaha menghembuskan obrolan aneh yang sudah aku siapkan.

Eh, aku mau ngasih tau sesuatu yang penting, tapi pasti kamu udah tau deh“, kataku dengan sangat serius sembari menatap matanya dalam-dalam.

Dia berhenti bermain dengan HP-nya, mencoba menanggapi keseriusanku, meletakannya di dalam tas, sembari mencoba menebak apa yang aku akan sampaikan, lalu memasang sikap tubuh siap untuk mendengarkan,

hmm emang apa?

ehm iya, hmmm, gimana yah ngasih taunya.

eh jangan bikin penasaran lah, cepetan kasih tau.

ini klimaks bro, seriusan, ingin banget rasanya untuk membatalkan pembicaraan, tapi come on kan hidup cuma sekali, daripada nanti menyesal pas tua. Mau responsnya kayak apa itu masalah belakangan, yang penting udah mau berani ambil risiko.
aaaaaa here we go! Aku pun menjawab dengan keras,

NIKAH YUK!

akhirnya keluar juga, saat itu aku lontarkan agak keras dan sepertinya terlalu cepat ngomongnya.

Dia agak bingung kurang mengerti, kayaknya emang aku ngomongnya kurang jelas deh, dia berinisiatif mencoba mendengarkan dengan lebih baik dengan mencondongkan kepala ke arah aku, seraya berucap,

sorry?

nikah yuk..

Ya aku berhasil memperkatakan itu perlahan dan sangat jelas. Kalau masih kurang jelas nanti aku coba lagi.

Kami saling bertatapan. Seandainya aku sempat melirik jam tangan analog di sebelah kiri, aku yakin jarum jam bergerak lebih lambat. Waktu serasa lama, lama sekali.

Dia menghela nafas, mencoba berpikir jelas, dia sempat seperti menggaruk hidungnya. Mikir tuh, mikir kan, mikir apa sih kamu?

Lalu dia menjawab, dengan nada agak tinggi,

“apaan sih?”

“iya, nikah yuk.”

SIP sekarang fix dia yang mulai resah, gantian nervous. Mukanya jadi rada kemerahan, bingung, salah tingkah. Entah deh dia sadar apa enggak. Aku masih meletakkan kedua tanganku di atas meja jati, aku merasa sangat tenang sekali. Dengan nada yang agak kacau, dia berusaha keras menjawab sebaik mungkin (bayangin respon cewe yang salting/salah tingkah),

yaaaaa, ga bisa langsung gitu sih. Ya kan ada prosesnya. Kan harus bla bla bla..“,

dia menjawab panjang lebar mengenai proses yang harus dipersiapkan untuk memasukan jenjang pernikahan, bahwa semuanya itu butuh proses. Ya, kami emang sudah cukup dekat sudah cukup lama, tapi tidak sedekat itu juga, dan paling penting itu belum ada komitmen apapun alias belum pacaran. Aku seneng sih ternyata responsnya bagus banget, oh jadi ternyata itu toh isi pikirannya, kena deh haha.

Nah sekarang waktunya untuk membelokkan pembicaraan,
let’s twist..

Eh apaan sih. Gua cuma mau ngasih tau kalo
NI KAYU!
“,

kataku dengan gaya sok jual mahal sembari memegang kayu jati meja makan,

NI KAYU, gua ulang yah, NI KAYU, bukan ‘nikah yuk’, hahaha pikiran lo kali tuh yang pengen dinikahin.

“…………………………………………………………………………..”,

Dia diam saja, menjawab dengan malu dibuktikan dengan muka merona kemerahan (tapi imut kok), respons dia selanjutnya sungguh tidak ternilai. Marah-marah, tapi tetep kocak, dan menyenangkan hati. Hingga akhirnya kami tertawa bersama, tertawa lepas seakan tidak ada hal aneh yang terjadi. Ya itu hanya sebual hal kecil yang aneh, ga jelas, namun menurutku pantas untuk dilakukan dan tidak perlu disesali.

[]

SHS-lagi aneh waktu itu-seriusan deh

Iklan

3 pemikiran pada “NIKAH YUK?

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s