Hey, STOP, where are you going?! A MUST READ for anyone who wanders in life.

9942058936_3a3cdaa21a_k

Researchers from the Max Planck Institute for Biological Cybernetics decided to conduct some experiments on the phenomenon of walking in circles while lost. It’s officially called “lost-hiker deja vu,” and it happens a lot.

When the volunteers had some sort of point of reference, like the Sun or the Moon, they were able to follow it in a straight line. Once that reference disappeared, though, they quite literally seemed to forget just what a sense of direction is, and began wandering in circles—usually, without even realizing they were doing it.

(the proof: nytimeslivesciencenationalgeographic)

Or, in other words, people really do walk in circles when lost (without realizing they do it).

Or, in sophisticated Bahasa Indonesia:
Ketika kita tidak memiliki suatu referensi eksternal permanen yang menjadi tolok ukur dari suatu perjalanan, kita, tanpa disadari atau tidak, meskipun sudah berusaha untuk menganalisis dan memberikan penilaian yang sangat brilian, akan berjalan dalam suatu pola teratur yang menyerupai lingkaran.

Or, in simplified Bahasa Indonesia:
Ketika kita tidak memiliki tujuan kita hanya akan berjalan berputar-putar.

Or, if you like fiction:
Alice: Would you tell me, please, which way I ought to go from here?
The Cheshire Cat: That depends a good deal on where you want to get to.
Alice: I don’t much care where.
The Cheshire Cat: Then it doesn’t much matter which way you go.
Alice: …So long as I get somewhere.
The Cheshire Cat: Oh, you’re sure to do that, if only you walk long enough.
~Quotes from Alice in Wonderland

*
(I will continue my writing in Bahasa, go to google translate if you want some but you don’t get it)

Dengan segala hormat dan kerendahan hati saya menyatakan saya capek berputar-putar. Dulu sih kayaknya ga mungkin untuk nulis hal seperti ini, karena kemampuan berpikir yang belum sampai dan juga kapasitas karakter yang juga belum sampai.

Sampai mana? Sampai saya bisa menundukkan ego dan menyatakan penyerahan diri. Bayangkan seorang raksasa setinggi Empire State building (441 m) yang tumbang bersimbah darah, ga sanggup lagi berdiri, bibirnya manyun ke arah samping, dan dengan susah payah jari-jari di tangan kanannya mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Saya ambisius, ingin A, ingin B, ingin C. Saya belajar banyak sekali hal, sungguh banyak sekali hal. Dan saya tidak sama sekali menyesali hal itu dan atau mencegah Anda untuk belajar. Bukan itu intinya. Saya mulai senang bekerja keras, cerdas, dan excellent. Itu sangat baik. Sekali lagi bukan itu juga intinya.

Seusai menyelesaikan kuliah Teknik Pertambangan di ITB, saya pergi sebentar ke Jepang (klik >>10 kelebihan orang Indonesia dibanding Jepang dan di Doa Sepele Setahun yang Lalu membawa Saya ke Jepang), lalu ngelanjutin membuka usaha sendiri sembari mengambil short course Entrepreneurship. Ambisius dan idealis. Sempat untung besar, sempat juga rugi besar.

Seiring berjalan waktu hal yang ingin saya capai sempat bergeser-geser dan mungkin wajar untuk dicap plin-plan. Mau bisnis, mau jadi engineer tambang, mau bangun karir finance di korporasi, mau jadi investor, mau bangun startup IT, mau jadi penulis dan pembicara, mau jadi pelayan Tuhan penuh waktu, mau ambil S2 di luar negeri (negrinya pun berubah2), mau jadi ini mau jadi itu. Mau lakukan ini dan itu. Mau raih ini dan itu. Mau belajar ini dan itu. Mau kesini dan kesitu. Mau semuanya, mau segalanya.

**

Di tengah perjalanan yang berputar2 ini saya yakin saya tetap di dalam kontrol Tuhan, Tuhan masih campur tangan, dan saya bersyukur atas semua yang Tuhan beri sampai detik ini. Yang luar biasa kalau di dalam Tuhan, gua mau muter-muter kayak gimana juga tetep rancangan yang baik dari TUHAN PASTI akan terjadi. Perjalanan muter-muter yang kesannya tidak bermanfaat, justru jadi proses pembentukan, pemurnian, dan yang terpenting: proses pencarian.

Btw, hingga detik ini gua lagi senang banget banget belajar, apapun! Terutama yang berbau self-development, finance, investment, neuroscience, communication, so on. Ketika saya muter-muter saya kerjain banyak hal, saya coba banyak hal, dan saya mengalami banyak tantangan dan banyak mentok. Dengan kepercayaan diri dibantu dengan kemampuan mental dan intelegensi yang terus diasah saya berjuang dan berjuang dan berjuang, dan akhirnya KOSONG.

Seperti yang seorang rekan sempet bilang untuk gua stop cari ilmu-ilmu sains whatsoever dan mulai cari langsung ke yang empunya masalah dan solusi dan kehidupan (dan kematian), yaitu TUHAN. GOTCHA! Well, itu sama sekali gak klise. Nyata tapi tidak mudah dilakuin. Problem utama manusia bukan kebodohan, tapi ego atau kesombongan (wah bisa jadi puisi nih).

Poin terbaik dari event muter2 saya adalah proses pencarian. Ada tertulis di sini bahwa kalau kita mencari kita akan mendapat. Problem terbesar (yang sedari awal saya sampaikan) adalah saya tidak tahu apa yang sebenarnya yang saya cari. Lucunya adalah ketika saya pikir saya tahu yang saya cari, saya tidak tahu apa yang sebenarnya yang saya cari. (silakan baca ulang biar pusing hahaha)

Saya pikir ini tentang tujuan jangka pendek, menengah, panjang. Sebuah studi di sini menunjukkan tentang keefektivan penulisan suatu tujuan dalam menyebabkan tercapainya tujuan tersebut. Bila digali lebih lebar kita bisa belajar banyak hal tentang HOW-TO (which is good to learn). Di era informasi ini, kita bisa belajar apapun dan menjadi apapun dan bisa menghubungi siapapun, akses terbuka luas! Tapi bagaimana dengan pertanyaan WHY-TO-DO?

Saya belajar bahwa kadang kala pertanyaan lebih berkuasa ketimbang suatu pernyataan. Di tengah perjalanan, seorang senior satu almamater menanyakan satu pertanyaan yang luar biasa nancep dan merobek sanubari:

“APA SIH YANG KAMU CARI?” …(1)

Lebih dalam dari apa tujuan hidup kamu, apa visi hidup kamu, apa mimpi terbesar kamu. Ini bukan tentang apa yang dilakukan tapi tentang “apa yang sebenarnya kita cari?” atau “apa yang sebenarnya yang kita lakukan dari melakukan itu” atau “mengapa?”. Karena sangat mungkin saya melakukan hal yang mulia dengan motivasi yang hina.

Pertanyaan (1) dapat menyingkapkan motivasi dalam diri yang ada di balik megahnya mimpi atau mulianya visi.

Saya ingin jadi pengusaha dengan pemasukan 1 milyar dollar per bulan dengan total kekayaan 250 milyar dollar.
Apa sih yang kamu cari?

Saya ingin membantu satu juta orang yang tidak mampu di pelosok di Indonesia.
Apa sih yang kamu cari?

Saya ingin bisa melayani Tuhan sebagai seorang A di lokasi B.
Apa sih yang kamu cari?

“A man always has two reasons for doing anything: a good reason and the real reason”

***

Tentu kita perlu suatu referensi atau dasar dalam menentukan tujuan hidup. Kita perlu suatu dasar yang tidak terguncangkan oleh apapun juga agar kita tidak membuang waktu kita yang berharga di muka bumi mengerjakan kesibukan basi alih-alih sibuk mengerjakan visi.

Tanpa berusaha menghakimi seorang pun, marilah kita saling bertanya

“Anda mau kemana?” //
“Where are you going?”

Dan setelah mendengar jawaban hebat yang penuh detail mempesona, mari lanjutkan dengan

“Jadi, apa Anda cari?” //
“So, what are you looking for?”

[] SHS

Iklan

12 pemikiran pada “Hey, STOP, where are you going?! A MUST READ for anyone who wanders in life.

  1. Elizabeth

    Nice words! Currently in the same state of questioning “apa sih yang kamu cari?” and accidentally end up here. Semoga bisa segera menemukan jawaban atas that ultimate ‘annoying’ question 😀

    Disukai oleh 1 orang

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s