Saya pikir perfeksionis itu keren, ternyata saya salah besar..

Perfectionism is often an excuse for procrastination

Saya pikir perfeksionis itu keren.

Tentu, saya pikir, karena semua orang mengejar kesempurnaan. Sempurna itu baik.

Tapi, apakah benar?

Saya sangat setuju bahwa kesempurnaan itu baik.

Tapi apakah mungkin?

Ah, saya tidak sedang memberikan Anda quote permainan kata seperti

“If practice makes perfect, and no one is perfect, why practice?” -Derek P/Kurt Cobain/whosoever

Sempurna itu baik. Namun, standar sempurna yang ada di pikiran saya itu adalah omong kosong dan hanyalah ilusi.

Sekali lagi sempurna itu baik. Kita semua tentu ingin memiliki hal-hal yang sempurna di dalam hidup.

Tapi, sekali lagi, apakah mungkin?

Bayangkan. Pasangan hidup, pekerjaan, bisnis, karir, keuangan, keluarga, tulisan, karya, komunikasi, negara, hukum, dan segala hal yang kita dapat beri label: “yang sempurna

Apakah ada?

Saya tidak sedang mencoba menghancurkan harapan atau mengubah pikiran optimis Anda. Saya juga tidak sedang memaksa Anda untuk menjadi terlalu realistis atau pragmatis. Bukan itu, sih, tujuannya.

Ini tentang berbuat salah.

tentang berani memulai

tentang berani mencoba

tentang berani mengambil risiko

tentang mengerjakan sesuatu yang tidak sempurna

Jadi, melalui tulisan ini sebenarnya saya berusaha sangat keras untuk tidak menciptakan tulisan yang sempurna, saya berusaha untuk sekedar menuliskan apa adanya, dan saya berusaha keras untuk tidak menyempurnakan tulisan ini sembari jari mengetik, karena

buat apa ada tulisan yang sempurna apabila tidak pernah dituliskan?

Buat apa ada bisnis yang sempurna kalau tidak pernah dijalankan?

Buat apa ada produk yang sempurna kalau tidak pernah ditawarkan?

atau mudahnya:

Buat apa mengejar kesempurnaan apabila itu membuat saya tidak berbuat apa-apa (yang isinya berkebalikan dari kesempurnaan itu sendiri)?

Hey, saya tidak sedang memberi tahu Anda untuk lebih baik satu tulisan jelek ketimbang tidak sama sekali. Hmm, TIDAK JUGA.

Btw, kesempurnaan berbeda sekali perbaikan terus menerus. Berbeda sekali.

Yang satu mendorong saya (atau mungkin juga Anda) untuk mengkhayal dan tidak berbuat apapun. Sedangkan satunya mendorong untuk kita memulai, menerima kesalahan, dan terus memperbaiki.

Kalimat yang lumayan kasar tapi efektif untuk saya seperti berikut:

“Perfeksionis seringkali hanya sebuah alasan untuk penundaan.”

Oke, perfeksionis adalah penyakit. Karenanya saya tidak kunjung selesai mengerjakan tulisan yang ada di pikiran saya. Tidak kunjung mengerjakan hal-hal lainnya yang saya mimpikan. Belum selesai atau bahkan tidak pernah dimulai dengan alasan perfeksionis atau kesempurnaan.

Perfeksionis lawan dari produktivitas dan kreativitas. Waktunya belum tepat, ada yang masih kurang, terlalu ini dan itu, kurang relevan, terlalu serius, kurang membumi, terlalu berani, kurang bermakna, kurang bernilai, dan lain lain. dan lain lain.

For me, let’s chase excellence rather than perfection.

Let’s do something different, let’s start small, let’s make differences in our society. We have to do real things, not elusive things. It’s okay to be imperfect, we can improve it later continually in excellent manner. Let’s start, now.

Are you with me?

*

Hey!!! Saya berhasil membuat artikel singkat yang (bodo amat dengan kesempurnaan) diciptakan dengan efektif dan efisien. Perbaikan akan dikerjakan menyusul mungkin di tulisan ini atau di tulisan lain di waktu yang akan datang.

Btw, omong-omong tentang mengerjakan mimpi atau berbuat sesuatu, saya jadi sadar kalau kadang kita berbuat atau tidak berbuat sesuatu tergantung dari apa yang kita pikir orang akan pikirkan tentang kita (yang mungkin bisa jadi satu artikel baru). Saya sempat berpikir demikian ketika menuliskan ini: apa yah yang orang pikirkan? Tapi, saya nulis juga, peduli amat sih sama apa yang orang lain pikirkan?

Toh kita sama-sama gak sempurna..

[] SHS

Iklan

9 pemikiran pada “Saya pikir perfeksionis itu keren, ternyata saya salah besar..

  1. Zain

    Saya merasa tulisan ini diperuntukkan khusus buat saya. Seorang perfeksionis yg suka nunda pekerjaan, karna alasan waktu yg kurang tepat. Kurang berkreasi karna alasan tidak punya kapasitas, dll. Persis seperti apa yg anda tulis.
    Intinya, tulisan ini sangat sangat menampar sekaligus menginspirasi saya. Thanks
    Satu pertanyaan saya, apakah karakter ini bisa diubah?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Thx mas Zain for reading. Senang bs menginspirasi.

      Satu jawaban: ya karakter bisa berubah. Identifikasi sifat pribadi kita yang perlu dirubah dan tujuan sifat yg diinginkan. Lalu ubah kebiasaan yg bs mengubah Anda kesana. Hehe. Pasti bisa.

      Suka

  2. Bram Joe

    Hi Sandro..
    salam kenal..
    I know your blog from candleskoy (Good marketer)
    Thank you for sharing this valuable thought 🙂
    this writing could be a part of puzzle for me to start what I and hopefully many people need.

    Cheers..
    Bram

    Suka

    1. Hi juga Bram Joe.
      Salam kenal 😀

      Really appreciate your positive feedback.

      Thank you for visiting 🙂

      I hope you can start (and finish) what you want to do. Good luck, man

      Cheers.

      Sandro

      Suka

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s