Tulisan yang Tidak Dapat Dihapus

The Writer
Mari kita menulis. Kali ini dengan bahasa Indonesia. Kali ini, bedaanya dengan kali=kali yang lain, menggunakan metode berbeda, metoda yang saya sangat sukai namun juga sangat menyebalkan. Nama metodenya ada Hemingway method. Bagi Anda pecinta dunia literatur pasti mengenal Hemingway, silakan google untuk mencari nama beliau. Intinya, beliau adalah penulis ternama internasiona;l. Apa yang berbeda dari beliau? Ya saya tidak bisa menjelaskan dengan sangayt baik gaya tulisan beliau atau cara pendekatan menulisnya, namun satu hal kunci yang penting yang membuat beliau bisa menuliskan begitu banyak karya (yang bagus atau yang terkenal ya).

Cara tersebut adalah menulis tanpa pernah menghapuskan tulisan Anda. Ah, benar sekali, saya sungguh merasa ekesulitan melakukan hal tersebut. Sifat perfeksionais saya seringkali mendorong saya untuk kemabali ke tulisan sebelumnya, mencoba menghapuskannya, mencoba memeperbaikinya, mencoba memikirkan kata yang tepat, terus dan terus demikian hingga akhirnya tidak pernah ada tulisan yang ada. Saya menggunakan aplikasi, eh, suatu situ di internet yang saya gunakan untuk mencatatkan jurnal harian saya. Saya sungguh terbantu dengan mode Heingway, eh Hemingway ini. My backspace button cant work at all. It is irritating at most of the time, but hey just keep writing..

Saya sejenak berhenti, berpikir, berpikir, dan berpikir, ingin menuliskan sesuatu yang sempurna. hahaha. Ssekarang ketika saya memutuskan untuk menulis untuk blog saya, saya pun mulai berpikir, dan berpikir , dan berpikir unutuk menciptakan suatu maha karya yang bagus sekali, yang semua ra–orang suka, yang semua orang, mungkin, bisa menerima, yang semua orang ingin baca, yang semua orang apresiasi dengan positif. Mustahil, bukan? Namun itu kadang muncul di di pikiran saya.

Biasanya ketiaka menulis jurnal harian saya, kaadang isinya benar-benar acak-acakan, ya saya tidak mampu, eh, tida sanggup untuk mundur lagi. Saya tiaadk bisa mundur lagi. Maju terus. Maju terus. Maju terus. Perbaiki di tengah perjalanan. Kesempurnaan tidak mungkin diacapai di awal perjalanan. Kesalahan tidak dapat terelakan. Semua orang tahu banyak melakukan kesalahan berarti orang tersebut banyak belajar. Namun, kultur atau kebiasaan di lingkungagn kadang tidak memberikan kesempatan orang untuk berbuat kesalahan. Meminjam istilah ekonomi, sistem tidak memeberikan seorang individu untuk —-sistem tidak memberikan insentif positif atau stimulus positif untuk seorang indivisudu untu k melaukan suatu kesalahan, maka, sistem tidak memberikan suatu dorongan kepada individu untuk belajar, baik secara sadar atau tidak saradar–da—sadar.

Di perjalanan menulis, tulisan yang dibuat pun lambat laun akan menjadi semakin baik. Ditambah lagi dengan sang penulis yang etterus belajar dari banayak ahal. Banyak membaca buku, merenung, berpikir, berdiskusi, menelurkan ide-ide baru, melakukan hal-hal baru, semua hal yang mengembangkan diri sesoeorang akhirnya dapat terlihat perkembangannya dalam tulisan yang dihasilkannya.

Saya ingin jujur sedikit. Tulisan ini saya buat dengan sungguh lambat sekali. Saya ingin membuat ad–Anda terkesima dengan ttulisan saya. Padahal orang juga tidak begitu perduli, bukan? hahahaha. Salah satu penayakit manusia adalah berusaha agar diterima loleh semua orang. Reseop gagal paling ampuh adalah berusaha menyenakgkan semua orang. Rsesp gagal yang setiap orang tau. Meskipun kadang kita berbuat demikian karena kita kadang memiliki rasa “insecure” atau juga merasa ingin dihargai–suautu sifat normal dan natural dari manusia. Saia[a yang tidak ingin diterima dan dihargai? atau, dalam perspektif non-galau, siapa yang tidak ingin dikasihi atau dicintai?

Seperti tulisan yang saya buat, demikianlah saya belajar untuk melakukan atau mengerjakan keputusan-keputusan yang ada di hidup saya sehari-hari. Halo, apakah dada –apakah ada diantara kita yang sanggup memutarbalikan waktu? jil—jil==jikalau ada, sampai kapan kita akan terus kembali ke masa lalu, dan mencoba memperbaikinya? sampai kita tau bahwa kita memang tidak dapat menghindari kegagalan dan kesalahan.

Lantas, kalau kita memang hidup di zona waktu yantg terus maju, detik demi detik, tyang tidak mnungkin mundur, mengapa kita, terutama saya, seringkali menghabiskan waktu yang sungguh berharga (yang terus menuers bergerak maju) untuk menghidupi kehidupan yang sudah lalu?kehidupan usang yang sayangnya tidak dapat diganti. Pikiran manusia yang cenderung menyimpan memori dan kenangan pahit (Anda bisa cari literatur mengenai ini) perlu sedikit dipaksa untuk bisa melihat maju dan menerima yang sudah lalu. Memang kad ang, suatu pengalaman yang sungguh pahit, mungkin suatu masalah di masa lalu, perlu dibereskan sampai tuntas setuntas-tuntasnya, ya saya sungguh setuju dengan itu. Kadang sungguhlah berat untuk menyelesaikan itu semua, hingga saya sungguh bersyukur bisa mengenal Tuhan yang sungguh mengasihi saya (dan Anda) yang mempberikan kekuatan untuk melalui iutu semua dan memberikan n pandangan yang jelas untuk hari depan.

Ketika Anda membaca ini, waktu Anda tiak akan kembali, waktu Anda bisa terbuang percuma atau mungkin waktu Anda baru saja terpakai dengan baik. Anda bisa mulai berpikir untuk masa depan, menyelesaikan masalah-masalah di masa lalu, belajar mengampuni orang lain–karena Anda tahu Anda (kita semua) tidak mungkin tidak berbuat ksalahan, mencoba memberikan kesempatan kedua untu orang-orang terdekat Anda () , belajar percaya sekali lagi , belajar mengambil risiko sekali lagi, belajar lagi dan lagi , dan lagi. Blajar untuk mencari tahu tujuan hidup Ad–Anda, karena ya hidup hanya sekali, dan sekali saja kita hidup untuk setiap detik yang berlalu.

Satu, Dua, Tiga.

Sudah berlalu.

Tujuh, Delapan, Sembilan.

Lalu, untuk apa Anda hidup?

Empat blas.

Tidak ada tombol backspace. Tidak ada tpmbol “Undo”

Dua puluh.

Bahkan tiadk ada tpmbol “apause” atau berhenti sejenak.

Meskipun, kita emmencoba “berhenti sejenak” dan mencoba merenung atau apalah gitu.

Tidak ada kesempatan untuk ..

memperbaiki yang kemarin, sepuluh tahu n lalu, apalagi yang barusan..

Tiga puluh dua.

Keputusan kita sendiri yang ciptakan, dan kerjakan, dan rasakan. Di setiap detik yang ada.
Untuk setiap konsekuensi yang kan ada.

Empat puluh.

Hingga di akhir perjalanan, kita sdar betul dan mengerti.
Bahwa kita tidak bisa kembali ke ba–belakang.
Mem[erbaiki yang kita sudah lewatkan.

Lima Puliuh.

“sudah selesai”

[]

Iklan

5 pemikiran pada “Tulisan yang Tidak Dapat Dihapus

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s