Generasi hyperconnected, kita yang terlalu terhubung


Hebat, materi apapun apapun bisa tersebar dalam hitungan detik hingga ke pelosok kota, kampung, dan negri.

Yah, mau gimana?
Tangan ini ga bisa lepas dari handphone. Kepala ini selalu merunduk memandang layar.

Dan entah kenapa jempol ini terus saja menggeser2 lini masa yang tak pernah habis.

“Ah, ada notif baru apa lagi? Eh ada notif baru ga? Eh ada berita baru? Waaaaoooow kacay parah ini mah. Hahahhaa ini kocak banget sumpah. Eh ini seriusan? Gila-gila gila harus di share ke semua penjuru dunia.”

Proses share jadi mudah–terlalu mudah. Tinggal klik link di website, beres. Or kopas link.

Share kemana? Ya social media–facebook, path, dan jangan lupa… chat apps.

Kopi link ke grup TK, SD, SMP, SMA, kampus, kerjaan, arisan, bimbel, kursus, geng, kelompok kecil, temen main, temen belajar, keluarga besar, menengah, dan sedang, duh banyak banget grup organisasi kita? Bisa masuk CV ga nih?

“Eh guys, kok diem2 aja sihhhh? Eh pada gimana kabarnya ni guyssss?”

Well honestly, kalo emg deket bakalan enak sih ya komunikasi.

Lah kalo kenal juga tau doang trus ditanyain bas-basi gitu mau gmn? Trus harus dengerin juga cerita2–update pribadi orang2 yang hardly kenal, and slightly dekat? hahahha.

“Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Yeah we all know that statement. We are still addicted to this gadgetarian lifestyle. Mau jadi apa gua kalo smartphone ini ga di tangan?

Eniwei, kita kan sama2 canggih nih…

Kalo kita udah bisa ngumpulin semua temen satu angkatan or kelas or kecamatan or keluarga besar di satu grup whatsapp or apa pun, trus trus gimana mau ngobrolin apa yak?

Selain apa kabar dan request kapan kumpul bareng dan jadi wadah ngumpul semata?

Kalo udah berhasil ngumpul. Selamat. Lalu ngumpul buat apa?

Smartphone super canggih komunikasi real time. Lo kirim, seisi grup bisa baca, dan langsung muncul pop notification di HP gua. Lo bisa kirim video, gambar, suara, dokumen, link ke internet, real time location, etc  etc.

(Oh yeah grup dengan tujuan jelas akan sangat terbantu dengan adanya smartphone dan fitur komunikasinya…)

Real time bro no hassle no delay. Keren banget kannnnn?

Keren banget yakkkk seharian cuman ngeliatin henpon aja gitu? Ngeliat-liat, cekikikan sendirian, komen2, baca2 update, share2 apa lah gitu yang kayaknya inspiring atau lucu atau kontroversial tapi ga valid.
(yeah kecuali emang sengaja hidupnya begitu)

Oh iya lowongan kerjaan yang hoax harus di share! Gausah di cek dulu asli apa kagak. Artikel yg menarik apalagi!

Malahan gua ga baca isinya udah gua share ke semua grup. Ini juga nih ada meme atau berita isinya sadis ga sedap dipandang tapi kayaknya bermanfaat.

Sebarkan! Sebarkan! Sebarkannnn!!!!!

Mari kita terus buat grup2 tidak penting tidak gitu kenal dengan tidak ada tujuan, sungguh tidak ada masalah, karena kita kan sudah saling terhubung, dan akan selalu (terlalu) terhubung, ya generasi hyperconnected!

*
Sungguh mudah berkomunikasi.
Sungguh canggihnya berbasa-basi.
Semua bisa dibagikan bisa disebarkan
Berita bohong, hoax, hingga inspirasi.

Tiada batas hingga penjuru negri.
Dalam hitungan detik sudah jadi.
Haruskah kita merunduk dan berduka?
Terus melihat lini masa, chat, dan berita?

Niatnya sungguh baik ingin berbagi.
Ternyata sampah yang aku bagi.
Dahsyatnya teknologi ayo sadari.
Sebelum berbagi, pikir dua kali.

Apakah makna dibalik komunikasi?
Apakah ada yang lebih penting dari semua komunikasi ini?
Sebab, tanpa tujuan, semua ini jadi sia-sia
dan sungguh tak berarti.

[SHS]

Iklan

6 pemikiran pada “Generasi hyperconnected, kita yang terlalu terhubung

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s