Apakah ada yang lebih pahit dari secangkir espresso? (apa hayo?)

espresso

Tahukah kamu, apa yang lebih pahit dari espreso?

Hari minggu yang sungguh amat baik. Aku bisa bangun pagi tanpa dipaksa nyaringnya alarm bergilir dari handphone. Aku ambil nafas panjang dalam-dalam, hirup udara pagi yang segar, aku lepaskan dengan penuh syukur, “aaaaaaahhhhhh”. Oh yeah, sungguh Tuhan baik!

Hidung aku sudah tidak mampat lagi, tidak percuma kemarin sabtu seharian aku habiskan untuk hibernasi dan makan makanan bergizi. Sedikit stretching dulu, oh oke pegal akibat demam sudah tidak terlalu terasa. Wonderful!

Mata ini tertuju pada jam weker di atas meja, ya entah mengapa jam ini selalu mengalami perlambatan. Aku menyalakan lampu kamar. Oh iya, aku terbantu sekali dengan lampu meja yang menyala otomatis. Bekerja seperti alarm, namun ini tanpa suara hanyalah cahaya. Berlandaskan premis bahwa manusia purba dibangunkan cahaya, biarlah terjadi juga demikian pada saya.

It is Sunday! I need to go to church. Segera mandi dan bersiap. Aku rindu mendengarkan firman Tuhan. OH YEAHHHHHHHH

A lovely Church, sebuah gereja yang tidak terlalu populer di kawasan Kuningan. Saya sangat terinspirasi dengan khotbah yang dibawakan oleh Pastor ini. Seperti biasa, saya datang kesini sendirian. Tidak masalah, ke gereja emang mau mendengarkan Firman Tuhan. So what?

*

A powerful preaching today! Saya berusaha mencatat setiap detail khotbah nya di Note kesayangan saya. Oh yeah. Teknologi memampukan saya copy paste ayat Alkitab menggunakan beragam terjemahan, lalu saya bisa tambahkan coretan tangan penuh warna, dan juga ditambahkan beberapa jepretan foto slide presentasi. COOL!

Pengajaran hari itu tentang Yusuf. Hey saya mencatat hingga lebih dari 10 halaman loh! Mungkin saya bisa jadikan itu catatan panjang untuk kita baca bersama. Mungkin juga bisa saya bagikan kala sharing dengan adik-adik dari Bangka Belitung 2 minggu lagi ya?

Satu kalimat yang lumayan powerful dari Ps Indri Gautama yang beliau parafrasa dari Alkitab, yaitu

Kalau Tuhan ingin memakai Yusuf menjadi pemimpin bangsa, maka jadilah demikian rencana-Nya. Di sisi lain, jika Tuhan harus membentuk Yusuf dengan menjadikan dia seorang budak terlebih dahulu, harus disiksa dan menderita terlebih dahulu, maka jadilah demikian!

“If GOD has to bring you to the deepest pit of your life to make you someone with power and authority over nations in the future, why bother?”

SO BE IT!

 

Preaching to myself:

Katanya kamu mau dibentuk Tuhan? Kok menghindari ketidaknyamanan? Kok mengeluh? Mengapa menyalahkan kondisi, bukannya bersyukur? Kok malah lembek? Katanya ingin menjadi seperti Yesus (you kidding me)? Katanya mau dibentuk sesuai dengan rencana-Nya? Kenapa kok malah gak antusias? Kok malah pundung (ngambek)? Kok malah fokus sama masalah, bukannya sama Tuhan? Lho, ngarep pertolongan dari manusia atau dari Tuhan?

HEY!!!!!

(baca juga> 2 Cara Mengubah Pengalaman Terburuk Menjadi yang Terbaik)

**

Ah, warbyasah memang Tuhan.

Dan bang Yusuf, melalui segala penderitaan dan ketidakadilan dari keluarganya dan beragam pihak lainnya, menunjukkan karakter yang luar biasa. Oh yeah, ketika Yusuf udah jadi orang nomor 2 dan bertemu kembali dengan keluarganya, dia tidak marah-marah dan balas dendam. Yusuf menunjukan pengendalian diri dan berkata:

“You sold me, but GOD sent me.” (genesis 45)

dan lanjutannya bro, shadissss

“You intended to harm me, but God intended it all for good. He brought me to this position so I could save the lives of many people.” (genesis 50:20)

Gile banget, ampun vrohhhh.

Itu namanya karakter ya, udah digiles habis sama penderitaan. Padahal itu dia punya kesempatan emas untuk marah-marah, untuk membalas dendam ke sodara-sodaranya yang dulu udah ngejual dia sebagai budak.

Manusiawi kan kita marah dan ingin balas dendam? Kok bisa sih ga emosi, benci, dengki, kepahitan?

***

Oh yeah, guys, it is all by GRACE 

Sinonim dari GRACE ini adalah “DIVINE ENABLER”

Yang harusnya ga bisa mengampuni, jadi bisa. Yang harusnya ga bisa mengendalikan diri, jadi bisa. Yang harusnya pengen bunuh orang, jadi pengen mencintai. Yang ketergantungan terus-terusan, jadi bisa. Oh yeah, pendosa kayak gua gini nih butuh banget yang namanya kasih karunia hehehe. And, yang kayaknya apapun (isi kondisi kamu) yang gak mungkin, jadi mungkin. PRAISE GODDDDD. Glory to GOD!

Eh ada ayatnya bro wait wait wait. Let me check my S-note….

DUm tara dum dum tshhhhh: catatan khotbah barusan gak kesave cuy. OMG.

No problemo lah. At least I still remember the key point of the Joseph’s story. And if you want to read more, please read bible in Genesis 🙂

****

Ah, I need to go back home man. Hey, my espresso is still there, let me first finish my bitter coffee..

Oh ya, sembari menyeruput kopi pahit, ada satu lagi yang saya masih ingat dari khotbah tadi:

Tahukah kamu, apa yang lebih pahit dari espreso?

(apa hayo?)

“Mencoba berharap orang lain untuk berubah sesuai dengan keinginan pribadi kita.”

 

[shs]

Iklan

3 pemikiran pada “Apakah ada yang lebih pahit dari secangkir espresso? (apa hayo?)

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s