NIKAH YUK?

Proposal
Aku suka banget sama hal-hal yang tidak biasa. Hidup ini terlalu singkat untuk melakukan perkara yang dikerjakan semua orang, perkara yang standar, perkara yang gitu-gitu aja. Hidup ini luar biasa banget kalo bisa ngelakuin hal yang aneh, hal yang mungkin gila, tapi layak dilakukan. Okay anggap saja ini intro dan setelah ini barulah cerita fiksi dimulai.

Lanjutkan membaca “NIKAH YUK?”

Iklan

i saw a building

Roadside Antiques Shop in Torrance Ontario

I saw a building. Strong building. Developed well downward. Didn’t look tall. Only an usual two-floor house.

But I came inside. Felt sorry for underestimating this building before.

You got two more level below the surface. Then I was thinking that you built a strong foundation for that! Lanjutkan membaca “i saw a building”

FIKSI Muntahan anak kecil kebodohan orang dewasa

Ian Gav

06.30
Kepala ini rasanya berat banget, badan ini apalagi. Hebat juga gua bisa bangun jam segini. Ngeliat ke arah jam wow emang canggih. Bau apa yah ini? Ga enak banget aromanya, pekat bgt deh. Mungkin cuman mimpi, ya gua rebah lagi.

Dan gua kebangun lagi, lagi-lagi bukan karena alarm. Oh my God kepala gua pusing banget, perut ga enak banget, badan sakit-sakitan semuanya. Gua bangkit dari kasur ke WC mau buang air kecil. Itu tadi apaan yah di lantai di samping kasur? Masih setengah sadar. Lalu kesadaran meningkat lalu gua ngerti: itu isi perut gua. Lanjutkan membaca “FIKSI Muntahan anak kecil kebodohan orang dewasa”

FIKSI: Interlokal ongkosnya mahal

" Hmm should I call her? " ...
8.30
Joni menelpon Jane, pacar lamanya, di pagi itu. Matahari terik tidak membuat hitam, namun menghangatkan tulang, itu kata internet dan ahli Teknik Matahari (kalau ada). Waktu terbaik untuk berjemur sambil menelpon kekasih hati yang lama yang berjumpa, pikir Joni sambil mendengarkan nada panggilan. “Tuuuut, tuuuuuut..” Lanjutkan membaca “FIKSI: Interlokal ongkosnya mahal”

Fiksi: Sebentar Lagi

More Mom's Mums
 

01:52

Cantik banget, aku disadarkan seketika saat itu melihat wajahnya dari dekat. Aku taruh kepalaku di pundaknya. Aku pegang tangannya erat. Tanganku dicengkeram keras. Aku menyibukkan diriku utk fokus dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Air mata menetes mengalir ke pipinya. Tetap cantik sekali, keriput kecil di kulit putihnya itu tidak berhasil memudarkan kecantikannya. Tanganku dilepas sebentar, diambilnya tissue Paseo bermotif bunga di meja, mengusap air mata dan membuang ingus di hidung. Lalu tanganku dicengkeram lagi. Kali ini agak lebih keras. Lanjutkan membaca “Fiksi: Sebentar Lagi”