PUISI: iman sekedar slogan

Slogan
ketika perkataan iman
tak lebih dari slogan

Lanjutkan membaca “PUISI: iman sekedar slogan”

Iklan

Puisi: Terlalu Dangkal

Swallowed up.
Terdengar jelas bunyi desiran ombak. Sungguh terasa lembutnya aliran air berjalan menyisipi sela-sela jari kaki. Naik dan turun. Kadang basah, kadang kering. Kadang basah, kadang kering. Basah, lalu kering. Diam di tempat untuk sekian detik. Sekian menit. Sekian jam. Dengan kaki telanjang yang siap diguyur ombak. Dengan harapan jangka panjang, hati dan pikiran rindu dipermandikan dengan air hidup.

Lanjutkan membaca “Puisi: Terlalu Dangkal”

PUISI: Apakah Aku Harus..?

Scream
Aku, apakah harus?

Apakah aku harus diremukkan dulu hatinya, sehingga aku mau datang bicara dengan Kekasih Hati?
Apakah aku harus gagal dulu, sehingga aku mau menyembah Yang Tidak Pernah Gagal?

Apakah aku harus terbakar habis dulu, sehingga aku berhenti mencintai dunia?
Apakah aku harus dibenci habis-habisan, sehingga aku bisa percaya aku dikasihi dengan Kasih Yang Tidak Pernah Habis?
Apakah aku harus jatuh tergeletak, sehingga aku tahu ada yang selalu menopang tanganku?

Apakah aku harus dibuat idiot, sehingga aku berhenti berpikir bahwa “aku punya jawabannya”?
Apakah aku harus dibuat cemburu buta, sehingga aku tau yang terjadi ketika aku intim dengan dunia?

Lanjutkan membaca “PUISI: Apakah Aku Harus..?”