Puisi: Terlalu Dangkal

Swallowed up.
Terdengar jelas bunyi desiran ombak. Sungguh terasa lembutnya aliran air berjalan menyisipi sela-sela jari kaki. Naik dan turun. Kadang basah, kadang kering. Kadang basah, kadang kering. Basah, lalu kering. Diam di tempat untuk sekian detik. Sekian menit. Sekian jam. Dengan kaki telanjang yang siap diguyur ombak. Dengan harapan jangka panjang, hati dan pikiran rindu dipermandikan dengan air hidup.

Seperti teratur. Ada ritmenya, ada ketukannya. Dentuman keras membanjiri permukaan seiring ombak menghempas. Surut seketika air itu menggulung. Berputar menukik tinggi ke udara. Tanpa pernah meminta izin, air itu kembali lagi mengguling kuat seperti tidak pernah kehabisan tenaga.

Lalu berulang lagi. Terulang lagi. Sekali lagi. Ah belum selesai. Masih sekali lagi. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Sama dan tetap sama. Polanya sama. Yang barusan, yang nanti akan datang, sama seperti yang pertama. Seperti pantun, punya rima.

Masih tidak berpindah. Kedua telapak kaki seperti melekat erat dengan koordinat di mana mereka ditempelkan. Enggan berpindah. Enggan dipindahkan. Riak air yang bolak-balik menghampiri tak memberi pengaruh berarti. Kedua kaki masih setia di tempat memberi diri dibasahi sewaktu-waktu.

Hei, ternyata ada sedikit perubahan: ombak bertambah besar. Angin tertiup lebih kencang. Empunya langit menghembuskan nafas sedikit lebih dalam. Air tak kuasa menahan diri, mereka terbawa gaya ilahi, dan menjadi lebih kuat tanpa disadari. Kedatangan mereka kemudian layak diberi apresiasi: tegas menghempas.

Sepertinya jahat, air itu menerpa terlalu keras. Padahal tidak. Tidak sama sekali. Mereka hanya tunduk pada otoritas. Terbawa oleh kegerakan aliran ilahi. Entah bagaimana, alasannya akan terus menjadi misteri.

Ternyata belum usai. Masih belum selesai. Yang tadi ternyata belum seberapa.

Ah gila! Yang ini keterlaluan!

Seperti tidak percaya. Kali ini angin bertiup berlebihan. Air lagi-lagi tak dapat disalahkan atas tindakannya yang semakin sadis. Ya, mereka hanya tunduk, mengikuti arahan hembusan angin. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Apa yang terlihat. Apa yang terasa. Apa yang terlihat apa yang terasa, ah apapun itu, berhasil menggetarkan jiwa. Pikiran seperti liar tak terkendali, tercipta gelora badai keras menerjang logika .

Ini waktunya.

Suara itu lembut, sangat lembut, sangat sangat lembut.

Jangan gila

Kedua kaki melangkah berat untuk maju. Telapak kaki tidak lagi terlihat, betis mulai tenggelam. Sudah terlalu dalam. Cukup. Ah sudahlah. Sudah cukup dalam ketimbang barusan.

Terlalu dangkal

Maaf?

TERLALU DANGKAL

DASAR GILA!

“Ini waktunya. Tenggelamkan diri. Lepaskan diri.

Terhipnotis. Seperti menutup mata. Berhasil mengelabui fakta. Keputusan tercipta bukan karena apa yang dilihat mata. Pikiran dan kehendak dilepaskan. Diri sendiri, ego, masa depan, segalanya dipertaruhkan. Segalanya ditenggelamkan.

Semuanya, ya semua-muanya tenggelam. Terbenam dalam pengharapan. Hanyut dalam derasnya aliran air hidup. Tergulung hebat dalam rencana. Terombang-ambing dalam rancangan sang maestro. Tak sanggup melawan. Tak bisa lagi ini sudah terlalu jauh. Hanya dapat mengangkat tangan, melepaskan diri, dan memberikan diri. Percaya begitu saja seperti anak kecil yang polos.

Digoyang-goyang dengan mudah bak puing kapal. Hati ditumbuk keras pada batu karang, alih-alih membuatnya hancur, itu membuatnya lembut namun semakin kuat. Momennya tiba, diri terbawa ombak lalu terangkat sangat tinggi. Tinggi sekali.

Nafas tersengal-sengal meronta minta ingin berhenti. Berteriak sangat keras hingga tak terdengar suara. Terangkut gelombang entah hendak dibawa kemana. Semuanya berlangsung dalam proses yang indah, apik, dan mulia. Sulit untuk dijelaskan dan mungkin lebih sulit lagi untuk dipercaya.

Fajar menyingsing, matahari keluar pelan-pelan dari kegelapan dengan senyuman hangat. Semuanya baik. Sungguh amat baik. Sungguh sungguh amat baik. Kudapati diriku terdampar di lokasi baru dengan diri yang diperbarui. Semuanya jelas, sangat jelas, semuanya jauh lebih baik. Bahwa inilah yang terbaik.

Tawa gembira pun terpecah, sukacita melimpah ruah.

[] SHS 2014

Iklan

2 pemikiran pada “Puisi: Terlalu Dangkal

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s