cerita sedikit tentang naik gunung dan naik kapal laut

hike
NAIK GUNUNG

Pernah naik gunung? Sebelum mulai mendaki kita bisa melihat dari kejauhan puncak gunung itu. Mulai membayang2kan perasaan yang timbul kalau sudah sampai di puncak, mendiskusikan rute dengan yang sudah berpengalaman, dan memastikan semua perlengkapan siap.

Lalu kita mulai mendaki. Mendaki dan mendaki. Yang paling nikmat dari naik gunung adalah seni dalam mengalahkan rasa lelah, atau bisa dibilang seni mengalahkan diri sendiri. Bila mulai capek, salah satu cara yang baik adalah istirahat sejenak dan memandang puncak gunung tersebut. Melihat puncak gunung yang adalah tujuan utama menjadi semburan energi semangat untuk otot dan pikiran.

Lalu kita semakin naik. Tentu saja semakin dekat dengan puncak. Tubuh boleh semakin letih namun pikiran yang baik akan terus mendorong tubuh bergerak. Tantangan baru muncul ketika rute perjalanan mulai membingungkan dan puncak gunung tidak lagi terlihat.

Momen “kebingungan” dan ketidakmampuan “melihat puncak gunung” menunjukkan bahwa kita sudah dekat dengan puncak. Kemampuan dalam mengatasi kebingungan, pengambilan keputusan yg tepat yang jadi penentu utk mencapai puncak. Ternyata ketika saya bingung sekali, saya semakin dekat dengan puncak

BINGUNG? BAGUSSSSSSSSSSS BERSYUKURLAHHHHHHHHH
______________________________

KAPAL LAUT

Sekelompok anak muda yang wajib militer berangkat lintas benua untuk suatu tugas militer. Mereka menaiki kapal laut yang besar. Saya suka menyebutnya MEGA BESAR. Haha.

Beberapa dari mereka mabuk laut. Bisa dibayangkan kapal laut berukuran besar melaju dengan kecepatan tinggi. Guncangan yang dihasilkan bisa mengocok isi perut hingga isi kepala kita. Banyak yang sudah tidak kuat lagi, lalu muntah, mengeluarkan isi perutnya dari dek kapal ke lautan luas.

Seorang anak muda, dengan wajah yang merah sekali, tidak kuat lagi, berjuang mati-matian melawan mual dalam tubuhnya. Seorang yang paling senior memperhatikannya, tertawa kecil dalam hati, lalu menghampiri anak muda tersebut lalu berkata:

Kamu lihat ke depan. Lihat ujung dari lautan itu. Kamu bisa lihat garis horizontal dari lautan di ujung sana? Pastikan mata dan pikiran mu fokus tertuju kesana. Maka semuanya akan baik-baik saja.

Dengan perasaan seperti tidak percaya, anak muda ini tunduk pada arahan pimpinannya. Dia tidak lagi mengarahkan pandangan pada sesuatu yang bergoyang-goyang terus terguncang setiap saat melainkan mengarahkan ke garis horizontal di ujung lautan di depan sana yang terus tinggal tetap tidak akan terguncangkan. Ternyata benar, semuanya menjadi baik-baik saja

[] SHS

Iklan

Satu pemikiran pada “cerita sedikit tentang naik gunung dan naik kapal laut

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s