FIKSI: Interlokal ongkosnya mahal

" Hmm should I call her? " ...
8.30
Joni menelpon Jane, pacar lamanya, di pagi itu. Matahari terik tidak membuat hitam, namun menghangatkan tulang, itu kata internet dan ahli Teknik Matahari (kalau ada). Waktu terbaik untuk berjemur sambil menelpon kekasih hati yang lama yang berjumpa, pikir Joni sambil mendengarkan nada panggilan. “Tuuuut, tuuuuuut..”Meskipun pacar lama, Joni bukan pria kurang ajar atau tidak tahu diuntung. Dia tidak punya juga pacar baru. Tapi memang sudah lamaaaaa banget menjalin kasih, merajut hubungan, dan mencintai sepenuh hati. Rekan-rekan Joni, terutama yang perempuan, kadang protes dengan sebutan “pacar lama” untuk dijadikan sebutan ke Jane. Kesannya udah gak pacaran lagi.

“Ya emang pengennya gausah pacaran lagi, mau dinikahin dong. Emang harus gitu atuh hehe.” Penjelasan masuk akal dari Joni meredakan pemikiran negatif semua pihak.

“Haloooo. Pagi Jon. Aduh kok kamu nelponnya jam segini sih? Kan lagi jam kerja atuh.”

“Iya Jane. Abisan mau gimana lagi. Aku tuh kang..”

“Eh maaf sebentar ada yang ga bisa ditinggal.”

Jane meletakkan HP Samsung itu di meja kerjanya. Entah sengaja atau tidak, pembicaraan masih terhubung, telepon belum dimatikan. Terdengar di telinga Joni, cukup jelas, Jane sedang bicara dengan rekannya di ujung sana.

Pembicaraan kantor yang penting. Sangat penting hingga bisa dibilang wajar untuk dijadikan alasan memotong pembicaraan mereka. Tapi urusan bisnis selesai, pembicaraan personal dimulai.

Kupingnya Joni seperti terbakar, panas sekali lebih panas daripada matahari rasanya ia mendengar obrolan akrab mereka. Layaknya pakar telematika Joni mengasumsikan Jane sedang tersenyum manja di ujung sana, menilai dari nada suaranya semata.

Obrolannya “Lokal”, dia ga ngerti sama sekali, tapi dia memutuskan untuk mendengarkan dengan sabar. Mencoba ingin tahu apa yg sedang terjadi di hidup Jane, apa ketertarikan dia, apa yang buat dia senang. Meskipun kuping panas, obrolan lokal itu semakin seru dan semakin sulit dimengerti oleh orang lain selain mereka berdua. Lalu..

Lalu, pulsanya habis, interlokal ongkosnya mahal, pembicaraan lokal itu pun tak lagi terdengar..

[]

Iklan

Hey, what's your opinion? Be the first to speak up!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s